Oleh: DR Andry Wibowo SIK MH MSI
Jakarta - Pemilihan terbuka dalam sistem demokrasi liberal, magnitude kekuasaan secara realitas menjadi daya tarik partai dan individu untuk diperebutkan melalui mekanisme pemilihan langsung dengan metode one man one vote.
Konsekuensi nyata dari model seperti ini popularitas partai dan individu menjadi salah satu faktor kunci yang mesti terus dibangun agar partai atau individu dapat dipilih oleh para pemilih (voters).
Popularitas merupakan kondisi keterkenalan partai atau individu di masyarakat yang disebabkan karena prestasi atau personality appeal lainnya yang diikuti oleh pemberitaan dan promosi by design atau by nature. Meskipun pada akhirnya pemilih akan memilih berdasarkan kesukaannya yang bersifat relatif bebas.
Untuk mengukur preferensi (kesukaan) pemilih terhadap beragam kandidat, umumnya dapat bercermin dari hasil survey. Tidak ada metode lain yang dapat dijadikan alat ukur indikatif selain melalui metode survey. Dan pada realitasnya, pengalaman hasil survei yang dilakukan secara profesional akan menjadi realitas pada pelaksanaannya.
Survei tersebut juga menjadi evaluasi sistem rasional yang dapat dijadikan pedoman bagi para kandidat untuk mengukur diri sejauh mana ia akan terus melanjutkan kontestasi dan mampu berkompetisi serta berpeluang menang atau kalah.
Pemilihan di Amerika Serikat sebagai preferensi dunia dalam pelaksanaan pemilu secara terbuka dan liberal, kedua partai kontestan partai Republik dan partai Demokrat selalu menggunakan media survei sebagai bahan dasar untuk mengukur tingkat kompetitif partai, kandidat gubernur bahkan presiden. Hal ini dilakukan karena keduanya memiliki misi yang sama yaitu memenangkan ruang kekuasaan di legislatif atau eksekutif yang di kontestasikan.
Era populism pada sistem demokrasi terbuka dan liberal seperti yang dilakukan di banyak negara demokrasi ala barat, merupakan anti thesis dari sistem demokrasi tertutup dan terbatas yang masih bisa memungkinkan kandidat yang tidak mendapatkan dukungan publik dapat terpilih sebagai pemenang.
Namun demikian dalam era post truth dan tingginya swing voter, era populism seperti ini juga menjadi jalan dan peluang bagi partai atau kandidat untuk mendorong calon dengan kualitas kompetensi kepemimpinan rendah untuk dicalonkan selama ia memiliki syarat utama yaitu populer.
Resiko yang terjadi pada era populism dalam sistem demokrasi terbuka dan liberal seperti ini adalah munculnya “Weak Leader “ dan persoalan kepemimpinan dalam menjalankan roda pemerintahan yang pada akhirnya merugikan kepentingan negara, bangsa dan mamasyarakat. Bahkan tidak sedikit yang akan meninggalkan persoalan hukum, politik dan keamanan.
Demokrasi sebagai sistem terbaik dari semua sistem politik yang ada sesungguhnya memiliki prasyarat yang mendasar yaitu adanya kondisi masyarakat yang memiliki pengetahuan yang memadai untuk memahami operasionalisasi dari sistem demokrasi itu sendiri.
Socrates dalam buku ke-6 tentang republik menyatakan bahwa demokrasi dan pemilihan umum memerlukan masyarakat yang memiliki keterampilan untuk memilih dengan intelektualitasnya bukan sekedar intuisi dirinya saja. Jika masyarakat tidak memiliki keterampilan sebagai pemilih yang baik maka demokrasi hanya akan menghasilkan bencana .
Dalam era populism di dalam operasionalisasi demokrasi pada negara berkembang, pesimistik socrates tentang fungsi, manfaat dan tujuan demokrasi hampir banyak menjadi kenyataan. Lahirnya pemimpin demagog, pemimpin yang menyesatkan rakyatnya.
Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar ke-4 di dunia memiliki resiko yang tidak kalah besar untuk melahirkan pemimpin yang menyesatkan rakyatnya di semua level dan ruang kekuasaan dalam era populism dalam sistem demokrasi terbuka dan liberal.
Partai politik sebagai entitas utama dalam sistem demokrasi memiliki tanggung jawab utama untuk mencegah lahirnya pemimpin demagog. Sistem pengkaderan yang terstruktur dan sistemik menjadi kanal bagi munculnya pemimpin yang berkualitas tetapi juga popular.
Lahirnya pemimpin yang berkualitas dan populer di semua level dan ruang kekuasaan akan memberikan kontribusi positif bagi negara, bangsa dan masyarakat sekaligus investasi positif partai politik di dalam imajinasi para pemilik suara.
Kita pernah memiliki bung Karno sebagai pemimpin yang berkualitas dan popular yang nama baiknya selalu ada dan hadir dalam lintas generasi. Kita merindukan lahirnya kembali bung Karno baru di semua level dan ruang kepemimpinan nasional dan daerah untuk memajukan Indonesia yang dicita citakan oleh para pendiri bangsa
